hanya sekedar coretan di layar desktopmu

Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Tuesday, 26 April 2016

independensi. masihkah???

16:55:00 Posted by fathur alrahman
Sebagai masyarakat menengah (midle class), mahasiswa tentu mempunyai daya tarik tersendiri. Mahasiswa bisa turun ke low class (baca: akar rumput) , dan juga memiliki pengaruh pada hight class (baca: arus atas). Karena posisinya di tengah-tengah ini pula, mahasiswa terkadang terjebak ke dalam sebuah pragmatisme. Mahasiswa cenderung memilih jalan ke atas, bukan ke bawah. Karena di atas lebih menjamin kehidupan masa depannya.
 
Berkaca pada hal di atas, yang menjadi underbow mahasiswa hingga menempati posisi yang sangat strategis antar arus atas dan akar rumput adalah independensi. independensi lah yang menjadi jembatan mahasiswa untuk
menjebatani antar dua arus di atas. akan berbeda bila independensi sudah bukan menjadi ghiroh kejuangan, sudah bukan lagi menjadi ruh, dan sudah bukan lagi menjadi pijakan mahasiswa maka moral force (kontrol sosial) yang selama ini melekat pada pelajar beralmamater itu sudah selayaknya ditanggalkan.
 
Hal yang menghantui alam pikir penulis hingga tulisan ini dibuat karena sebuah pertanyaan kecil. APAKAH MAHASISWA MASIH INDEPENDEN? Mengingat saat ini juga telah banyak mahasiswa yang terjun dalam dunia politik praktis. Menjadi simpatisan adalah hak setiap orang, termasuk mahasiswa. Mendukung partai tertentu juga menjadi hak setiap orang, juga mahasiswa. Tapi, bolehkah seorang mahasiswa menjadi kader di dalamnya? Bergerak dalam tataran politik praktis? Bukankah gerakan moral yang menjadi wadah gerakan ataupun organisasi mahasiswa  ditentukan oleh independensinya. Kalau mahasiswa sudah berada dalam lingkaran politik praktis, dalam hal ini berafiliasi (penghubungan) pada partai poltik berarti mahasiswa sudah tidak independen lagi. Kalau begitu jelas bukan sebagai kekuatan moral lagi.
 
Di sisi lain, organisasi mahasiswa semacam HMI, GMNI, PMII, IMM, KAMMI, FMN dan lain lain mempunyai banyak kader dan anggota. Hal ini cukup riskan menjelang 9 Juli. Mahasiswa sebagai pemilih pemula mempunyai pengaruh signifikan untuk menambah suara pemenangan Presiden. Hampir 30% suara pemilih pemula ikut andil dalam ritual 5 tahunan sekali yang kebetulan jatuh tempo pada 9 Juli mendatang.
 
Sejatinya, Peran mahasiswa masih dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi bagaimana kalau mahasiswa sudah tidak menjunjung independensinya lagi. Mungkinkah terdapat penyikapan yang berbeda terhadap independensi yang ada? Jangan-jangan tiap mahasiswa punya definisi independensi sendiri-sendiri?
 
Klimaksnya, tugas mahasiswa sebagai agent of change dan social control yang menjadi jargon sakral tidak akan pernah berguna bila ia tidak bersinggungan dengan Independensi. jangan pertanyakan masih perlukah independensi di tengah budaya hedonis dan prakmatis para mahasiswa dewasa ini. dan jangan tujukkan independensi semu karena sudah seyoganya gerakan mahasiswa harus bisa menjaga independensi gerakannya untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Mahasiswa dalam pergerakannya haruslah tetap murni dan tidak terkotori.

Kongres HMI untuk Harapan Masyarakat Indonesia

16:47:00 Posted by fathur alrahman
Jika kita menganalogikan organisasi sebagai miniatur sebuah Negara, sudah pasti tidak dapat lepas dari sebuah gawai demokrasi. Bila di Negara tercinta kita, pesta demokrasi dilaksanakan 5 (lima) tahun sekali maka pesta demokrasi di HMI dilaksanakan setiap 2 (dua) tahun sekali. Agenda kongres yang direncanakan dibuka secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 November di kota Pekanbaru Riau ini merupakan agenda besar organisasi, selain sebagai agenda permusyawaratan untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di HMI juga klimaks dari kongres adalah merumuskan formulasi-formulasi baru untuk menjawab tantangan kekinian yang dihadapi bangsa.
Pasca Kongres/Muktamar Muhammadiyah mengkonstruksi konsepsi kemajuan dan NU mengutarakan distribusi konsepsi terhadap islam nusantara pada tahun 2015 ini, tibalah saat untuk HMI memberikan konstribusi dan konsepsi terhadap kemajuan islam nusantara melalui forum kongres. HMI sebagai anak kandung umat islam dan juga sebagai integral dari keluarga besar bangsa harus memposisikan diri sebagai kawah candradimuka. Indonesia membutuhkan inovasi di berbagai bidang, sehingga mampu menjadi bangsa yang lebih maju dan lebih baik.
Arena kongres menjadi langkah untuk introspeksi pada bagian-bagian internal HMI secara menyeluruh, dinamisasi di dalam tubuh HMI kiranya dapat diterjemahkan dalam konteks kekinian sehingga wacana-wacana yang membiaskan tidak lagi menjadi penjebak, terlebih lagi di nina bobokan nostalgia kebesaran sejarahnya masa lalu. Akan berbahaya bila HMI semakin pulas tertidur, indikasi ini dibuktikan dengan gerakan HMI relatif tidak terlihat dan (walaupun ada) cenderung sendiri-sendiri.
Dari ribuan kader dan anggota yang datang bertamu ke kota Pekanbaru, tentu dengan muatan ribuan ide, ribuan gagasan, dan dengan ribuan kepentingan pula, dari sekian banyak ribuan-ribuan itu bukan perkara sukar untuk merumuskan gerakan-gerakan pembaharuan untuk HMI, namun bila dengan ribuan gagasan yang gentayangan di arena kongres tidak didukung mediasi, konkritifitas, dan transparansi, maka misi-misi perubahan yang dibawa masing-maing kader dan anggota jauh-jauh dari daerah asalnya akan menguap sia-sia.
Kota Pekanbaru, Riau yang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah kongres ke dua kalinya (setelah 1992) akan menjadi pusat perhatian dari sebagian besar kader, anggota, dan juga alumni HMI di seluruh nusantara, berangkat dari hal itulah kota Pekanbaru dituntut kesiapannya untuk memfasilitasi sebuah organisasi perkaderan dengan jumlah kader dan anggota dari seluruh nusantara, dengan ribuan kader HMI yang datang bertamu semoga saja masa-masa kelam dinamika kongres sebelumnya tidak terulang kembali, namun jika skenario yang penulis sebutkan kembali terulang di Pekanbaru, dapat dipastikan distorsi intelektual dan kesadaran kader tentang “saling memiliki” terhadap HMI telah jatuh ke titik nadir.
Otokritik dalam kondisi bagaimanapun dan situasi apapun menjadi penting dilakukan oleh HMI, dengan otokritik hijab-hijab yang membatasi HMI memandang noda-noda dan aib diri sendiri semakin jelas, menerangkan kondisi sebenarnya dari HMI dalam posisi dan situasi yang sebenarnya sedang dihadapi apakah solid ataukah semakin rapuh. Ketika semuanya semakin jelas, kebijakan-kebijakan strategis yang perumusannya dituntut membutuhkan kajian kekinian akan semakin mantap untuk ditapaki, karena sebelum mulai melangkah pada komunitas yang lebih besar (masyarakat Indonesia), restorasi HMI harus dimulai sedari diri sendiri.
Lagi dan lagi, kongres ini seharusnya tidak hanya memberi harapan baru bagi komunitas keluarga besar HMI tetapi juga bagi kita semua rakyat Indonesia. Semoga kongres ini mengembalikan HMI (Harapan Masyarakat Indonesia) versi Jenderal Sudirman pada track yang seharusnya. Harapan ini menjadi absolut bila kita mematrikan dalam hati masing-masing bahwa Lafran Pane dan kawan-kawan membidani HMI bukan untuk menjadi milik seseorang atau sekelompok orang, melainkan menjadi aset berharga untuk bangsa Indonesia.
Selamat berkongres, selamat berdinamika untuk sahabat-sahabat HMI se tanah air, semoga dapat melahirkan gagasan-gagasan yang mampu menempatkan HMI menjadi wadah perubahan bagi bangsa ini, mewujudkan HMI yang dinamis dan tetap mengambil peran dalam pembangunan bangsa, melahirkan imam yang bertanggung jawab serta total dalam melaksanakan tugas-tugas kelembagaan di HMI, mengghidupkan kembali dinamika gerakan yang hari ini relatif meredup, menjadikan silaturahim sebagai lahan strategis merumuskan solusi dari permasalahan di areal jajahan masing-masing, dan menciptakan suasana konsolidasi dengan semangat kekeluargaan. Jayalah HMI, jayalah bangsa. Allahuakbar . . . . . . . . . . . . . . .

Monday, 18 April 2016

MAHAsiswa dan pertanyaan “MAHA” yang belum terjawab

15:51:00 Posted by fathur alrahman
Akan ada senyum menyeringai disaat pembaca sekalian mengintip sedikit redaksi dari kanda Sulastomo. Dalam bukunya “(Bukan) Negeri Sampah” yang ditulis beliau kurang lebih 12 tahun lalu, ada satu halaman khusus yang memang sengaja disiapkan untuk redaksi yang penulis kira menantang anak muda (khususnya mahasiswa) untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu di sanubarinya yang paling dalam. Dengan efek yang sedemikian, penulis kira itu layak. Seyogyanya memang sebuah buku, selalu ada teruntuk siapa buku itu dibuat bukan?
Tetapi yang membuat kelayakan itu bertambah, agaknya isi buku itu didedikasikan khusus untuk redaksi ini. “untuk anak muda zaman sekarang, semoga masih ada idealisme”. Itulah  redaksi sakti yang penulis maksud. Kalimat “anak muda” dalam redaksi itu tampaknya sedikit pas bila ditafsirkan sebagai mahasiswa. Lagi pula agak kurang lezat seandainya disematkan kepada masa-masa SMA. Mengapa demikian?
Hemat penulis, idealisme SMA cenderung masih mengkal. Kultur dan style mereka tentang ber”idealis” belum cukup padu. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi psikologi yang masih labil serta pola fikir yang cenderung belum matang. Relatif memang, tetapi fenomena dan kultur masa SMA adalah tentang menjadi “aku” dan “aku adalah tuhan untuk diriku”.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa, inspirasi dari tulisan ini dan interpretasi utuh dari anak muda yang  dipertanyakan di atas. Masih adakah idealisme? Masihkah paham “aku adalah tuhan untuk diriku” dibawa hingga celana abu-abu diganti dengan celana bebas rapi dari senin hingga sabtu?
Sayangnya tidak ada data statistik yang mampu  menjawab secara eksplisit pertanyaan  di atas. Ditambah dengan gerakan-gerakan kultural, gerakan  moral, dan gerakan  intelektual yang awalnya subur di lingkungan akademis kampus seakan cenderung melesu. Gerakan kultural seperti diskusi dibungkam, membaca dibutakan dan menulis dikebiri oleh penghianatan intelektual yang sudah menjadi penyakit dan geokultur siswa yang sudah kadung (baru dan lama) menjadi MAHA.
Agaknya impotensi organisasi mapan sebagai inang dari gerakan kultural, gerakan moral, dan gerakan intelektual sudah kronis. Sedang organisasi alternatif memanfaatkan peluang menggarap lahan yang ditinggalkan oleh organisasi mapan. Pembuktian dari hipotesis ini tampak pada organisasi alternatif yang adaptatif dan dinamis. Fleksibilitas organisasi alternatif membaca kondisi masyarakat menjadi kunci untuk menggerus kedigdayaan organisasi mapan secara sedikit demi sedikit.
Komodifikasi gaya hidup menjadi pemenang dalam kasus ini. hedonisme menjadi gamblers dengan kemenangan terbesar. Lalu mahasiswa? Nilai-nilai murni (pure values) dari ke-mahasiswa-an seakan tergerus oleh nilai-nilai transnasional yang menjadikan globalisasi sebagai kuda troya. Hasilnya yang pasrah semakin pasrah, yang idealis berjuang tanpa identitas.
Pada titik ini, gerakan kultural, gerakan moral, dan gerakan intelektual akan menjadi api unggun yang mencairkan redaksi “maha” dari kebekuan, kata “maha” tidak dijumudkan hingga kehilangan konteks, tidak pula kata “maha” hanya sekedar menjadi pemanis anak bangsa yang masih ingin belajar pasca siswa.
Mahasiswa sebagai underbouw perubahan sudah selayaknya bangun dan tersadar. Segeralah cuci muka untuk mengembalikan seluruh ingatan tentang diri sendiri dan apa yang harus dilakukan dan tidak hanya turut hanyut bersama dengan statisnya kehidupan kampus. Gerakan-gerakan massa memang sudah tidak lagi ngetrend belakangan ini, dan untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan gerakan massa itu, gerakan kultural, gerakan moral, dan gerakan intelektual menurut hemat penulis masih relevan untuk digunakan.
Sungguhpun pada akhirnya mahasiswa tetap dijatuhkan pada pilihan antara pragmatis atau idealis. Jika dipandang dari sudut yang lebih netral, secara fundamental mahasiswa tidak harus melupakan tentang eksistensi dirinya sebagai agen perubahan dan social control di tengah-tengah masyarakat.

Semoga pembaca tulisan ini (terutama mahasiswa) mulai “ingin” mencari sesuatu sebagaimana faktanya dan apa adanya ketimbang menilai apa yang tampak secara kasat mata, yang benar ketimbang yang salah, dan yang substantif ketimbang artifisial. Siapa tahu idealisme menyembunyikan dirinya di sela-sela tumpukan ikhtiar diri mencari orisinalitas,  hingga klimaksnya pertanyaan “MAHA” kemudian terjawab.

Saturday, 9 April 2016

ketika qur'an bercerita

18:51:00 Posted by fathur alrahman
Perkenalkan pembaca, namaku Al-Quran. Anda pasti sudah kenal saya, secara langsung  maupun  tidak  langsung.  Saya mewarnai  dunia  ini sejak abad ke 7 sampai sekarang  ini, dikumandangkan  di seluruh pelosok dunia. Dikenal dari kolong jembatan tol satu Pontianak sampai istana raja Arabia di pegunungan Alpen. Dari Bronx di megapolitan Rio de Janeiro sampai kantor2 elit di Silicon Valley. Dari syukuran kelahiran sampai berkabung atas kematian. Dari lorong2 sempit shantytown  di  Uganda  sampai  di  laptop2  mahasiswa  muslim  di  Eropa.  Aku praktis  ada  dimana2  pembaca,  setiap  detik  jutaan  orang  membacaku. Aku adalah salah satu dari jutaan saudaraku yang menyebar di seluruh dunia.

Minggu yang lalu aku disumbangkan oleh seorang anggota DPR di perpustakaan daerah. Jadi selama seminggu ini aku mendapatkan rumah baru, aku beruntung  sekali, di tempat baru ini temanku  jadi banyak. Di tempat yg lama, aku cuma dipajang saja, gak pernah dibaca. Dulu aku dijadikan mahar perkawinan  anggota  DPR  itu  dengan  istri  pertamanya,  setelah  dia  bercerai karena  istrinya  pertamanya tidak mau dimadu,  aku  diserahkan   ke perpustakaan daerah.

Aku merasa gembira sekali, serasa lepas dari kubangan gelap, tiap hari dulu aku hanya melihat muka2 masam, hubungan rumah tangga yg tidak harmonis, penindasan  atas  hak2  istri,  anak2  yang  tidak  terdidik  dengan  baik.  Begitu datang aku langsung disambut oleh penghuni2 lama disini, yang paling tua di sini dan paling gemuk itu namanya Veda, yang juga cukup tua walau tidak setua Veda ada Tipittaka, ada juga Injil, ada Taurat, ada Upanishad, ada Politica, Ada Republic, ada Divina Comedia, ada Das Kapital, ada banyak sekali teman2ku di sini.  Walaupun  begitu,  aku  tidak  bisa  langsung  dekat  sama  mereka  semua, yang paling dekat selama ini masih Injil, yang sedikit lebih tua dari aku. Aku sering curhat dengannya, dia juga yang selama ini sering melindungiku dari olok2an teman2 dari rak sebelah kiri, terutama Das Kapital yang suka menggangguku.  Tapi  aku  senang  di  tempat  baru  ini,  aku  semakin  dewasa, banyak  yang  kupelajari  dari  teman2  baruku.  Aku  juga  mengangkat  adik, namanya Aqdas, yang terus terang kuakui kadang lebih dewasa daripada aku.

Di  tempat  baru  ini  aku  ditempatkan  bersama  teman2  dari  jenisku,  yang akhirnya aku malah sering diskusi dengan mereka semua. Dari diskusi2 itu aku menjadi  terbuka  akan  warna-warninya dunia  filsafat,  itu  baru  dari  filsafat agama.  Lebih beragam  lagi kalau aku kadang2  mendengarkan  percakapan2 dari teman2 yang berada di rak sebelah kiri. Dari diskusi itu, aku menjadi sering merenung sendiri.

Beberapa hari lalu aku diambil dan dibaca oleh seorang anak kecil, umurnya kira2 14 tahunan, pakaiannya kumal, celananya  robek  disana-sini,  kulitnya hitam diliputi debu. Setelah menengok kanan kiri, dia mengambilku dan segera pergi  ke  meja  dan  membacaku.  Sangat  bahagia  diriku  pembaca  sekalian, setelah sekian lama aku hanya dipajang, akhirnya ada juga yang membacaku. Memang dia  kurang lancar membacaku, tapi  aku bisa  merasakan aura kerinduan yang sangat dari tatap matanya dan desah suaranya saat membacaku. Tapi sayang pembaca, tak berapa lama kemudian petugas perpustakaan mengusirnya, disertai gertakan2 yang memilukan  hatiku.

Tentunya bagi anak itu lebih memilukan lagi, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku sangat sedih sekali.

Para pembaca, terus terang saja, aku kadang iri sama Injil, Veda, Tipittaka, dan yang lain2. Bukannya apa2, tapi jelas semua mengakui bahwa mereka adalah ciptaan  manusia,  jadi kalau salah ya lumrah, lha memang  ciptaan  manusia. Tapi  aku di  rumah  besar  ini  adalah  satu2nya  yang  dianggap  produk  Tuhan, dianggap sebagai kata2 Tuhan, jadi kalau aku salah seperti salahnya aku tidak mengharamkan perbudakan, atau salahnya aku melakukan perhitungan matematika dalam pembagian warisan, berarti yang salah Tuhan dong, karena aku adalah kata2nya Dia. Aku bukan kata2 Muhammad.  Karena Muhammad hanyalah  mediumku.  Injil  memang  banyak  kesalahan  di  dalamnya,  apalagi yang  edisi  Latinnya.  Tetapi  Injil  bisa  berkilah  bahwa  memang  dia  ciptaan manusia,  yang  membuat  adalah  murid2  Yesus.  Veda juga  bisa  selamat  dari tuduhan, karena memang dia ciptaan resi2, jadi kalau salah ya yang salah resi yang membuatnya. Tipittaka juga begitu, Sidharta kan juga manusia biasa, dia pasti bisa salah.

Tapi aku, sekali lagi aku, aku adalah kata2 Tuhan, sungguh pedih hatiku mengingat itu. Aku telah menghina Tuhan, tuhan segala alam. Aku telah digunakan umat untuk menghina tuhan, mengapakah tuhan yang segala maha  itu  hanya  mempunyai  kata2  terbaik  seperti  aku.  Bahasaku  memang indah, diksi2ku memang mumpuni, tapi aku konstekstual, aku ada karena keadaan, aku ada karena Muhammad butuh alat untuk menyadarkan kejahiliahannya  umat.  Muhammad  butuh  dogma  sebagai  alat,  karena  orang bodoh yang celakanya 99% manusia tergolong dalam golongan orang bodoh ini butuh dogma, butuh simbol, butuh balasan atas yang dilakukannya, butuh ancaman dan butuh hadiah.

Muhammad sendiri tidak butuh dogma dan simbol, karena dia manusia sangat pragmatis dan sekaligus futuristik idealis. Muhammad selalu mengingatkan akan bahaya kebodohan atau kejahiliyahan, karena dia tahu benar akan seperti apa umatnya  sepeninggalnya.  Waktu dia mau mati, aku ingat benar bahwa dia berkata “ Umatku..umatku…umatku…”, kekhawatiran  yang tidak berlebihan jika melihat apa yang terjadi  setelah dia meninggal.  Yang  mengantarkan  jenazahnya  hanya  5  orang,  sedangkan  yang lain ribut membicarakan vacuum of  power. Umar dengan lantang akan menebas  leher  siapa  saja  yang  bilang  Muhammad  meninggal,  bibit2  kultus yang justru ada   di kalangan sahabat2 terdekatnya. Belum kejadian2 memalukan  beberapa  lama  setelah  dia  meninggal,  istrinya  Aisyah  perang dengan  menantunya  Ali bin Abi Thalib, cucunya  Hasan dan Husein dipenggal kepalanya oleh orang2 haus kekuasaan, semua sahabat terdekatnya mati terbunuh karena kecemburuan karena kekuasaan.

Hidup lebih dari 14 abad membuatku  menjadi  saksi bisu kenaifan  manusia, terutama  justru  kenaifan  jutaan  pembaca  setiaku.  Yang  sangat  membuatku pedih adalah ucapan Muhammad Abduh sewaktu kembali dari perjalanannya ke Eropa, dia lebih melihat Islam di sana daripada di negeri2 yang selama ini mengaku sebagai negeri Islam. Nilai2 persamaan hak lebih dihormati di negeri yang  sedikit  sekali  orang  yang  bisa  membacaku,  kesejahteraan  rakyat  kecil lebih terjamin di negeri2 itu, di saat korupsi dan komersialisasi diriku dijadikan propaganda politik oleh orang2 yang mengaku Islam yang sering hanya demi kepentingan sesaat semata.

Jika  hidupku  memang  ditakdirkan  untuk  menanggung  beban  ini,  aku  akan menjalaninya  dengan  berat hati. Sebenarnya  lebih  baik aku  tiada  atau  mati saja,  daripada  hidup  menanggung  beban  melecehkan  tuhan.  Daripada  tiap detik  dikumandangkan  di  seluruh  dunia,  tapi  substansi  nilaiku  dibuang  di pojok2 sejarah, sedangkan nilai2 normatifnya saja yang jadi keributan dimana2.

Pembaca  sekalian,  doakan  aku  ya, biar Allah  menguatkan  hatiku  menerima perlakuan makhluk2, menguatkan  aku menghadapi  penghinaan2  filosofis ini. Sudahlah, kurasa sudah cukup aku curhat, yang lain sudah pada tertidur. Weda sudah ngorok kudengar, Injil dan yang lain jg sudah tidak terdengar suaranya. Aku ingin tidur, kalau bisa selamanya, agar penderitaanku ini berakhir, penderitaan  peradaban  yg harus kusandang,  oh malang sekali diriku. Terima kasih pembaca, sudah sudi mendengarkan keluh kesahku.

terima kasih

18:50:00 Posted by fathur alrahman
TERIMA KASIH . . . Mungkin sangat jarang sebuah tulisan dimulai dengan kata itu. Tetapi itulah kata yang layak aku gunakan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah “menunjukkan” dirimu untukku. Buku pemberian darimu telah kubaca SELURUHNYA. Novel pertama dalam sejarah hidupku yang membuat mata ini tak pernah bosan menelusuri huruf demi huruf, kata demi kata hingga halaman demi halaman.
Dari hadiahmu, menyadarkan aku bahwa kemiskinan tidak harus dihadapi dengan rasa takut. Bahwa Tuhan selalu punya rencana. Bahwa Tuhan tidak akan pernah berkedip untuk melihat nasib ummatnya yang hendak berusaha. Buku itu memang seperti candu (A Fuadi). Mampu membawa pembacanya seperti hilang dari lingkungannya selama menelusuri kata demi kata yang dimuat didalamnya. Mampu menarik pembaca ke dalam dimensi yang diredaksikan buku itu.
Seketika. Aku lupa akan sekelilingku saat buku itu ditanganku, aku lupa akan seluk beluk aktifitas manusia yang ada di sekeliling, bahkan aku tidak hiraukan lagu favoritku yang sedang diputar dari laptop ini dan mataku hanya tertuju pada kata demi kata dalam buku itu. Mau bagaimana lagi??? Buku itu sudah mencanduku.
Sungguh. Tokoh itu menginspirasiku. Menyadarkan melalui cerita masa kecil hingga remajanya di kebon dalem, sebuah desa yang kemiskinan bukan hal yang langka untuk ditemukan, anak-anaknya matang menghadapi hidup sebelum dewasa, kisah cinta, hingga makna persahabatan.
Buku itu mengingatkanku tentang sahabatku. Sahabat yang sering kusebutkan namanya di depanmu. Hingga sekarang ia sedang mengumpulkan rupiah demi rupiah. Mencari logam mulia yang terkubur di dalam tanah, memaksa tubuhnya bekerja keras hanya untuk rupiah agar bisa kuliah, tanpa sadar aku mengaguminya, jarang ada manusia seperti itu, ingin meneruskan kuliah dari rupiah hasil keringatnya sendiri. Mencoba melawan kondisi yang tentunya tidak nyaman dialami segelintir orang. Dalam hati sejujurnya ku akui engkau luar biasa kawan.
Tidak sepertiku yang meminta dan meminta. Betapa lupanya aku akan mereka yang rambutnya mulai memutih, kulitnya mulai mengerut. Sebuah takdir yang tidak bisa dielakkan dengan apapun. Terlebih lagi setelah adikku tidak lagi bersama mereka, diapun sedang merintis pendidikannya di salah satu universitas ternama di kota ini, sering terbayang pula tentang kesendirian mereka hari ini. Ketika aku telah kenakan toga itu, akulah yang akan mengisi hari-hari mereka lagi.
Semoga saja apa yang sering dikatakan orang tentang “tidak ada kata terlambat” itu benar adanya. Hanya semangat yang dahulu tercerai berai yang harus segera ku kumpulkan lagi. Mengingatnya membuat semangatku seketika bangkit kembali. Yakinlah aku berada di jalan yang benar. Aku sedang berada di jalur yang engkau dan seluruh alam semesta harapkan dariku. Akupun tak kerasan selalu berada dalam posisi seperti ini. Aku tak akan mati sebelum ku kenakan toga itu, aku yakin Tuhan pun cukup bijaksana tidak memerintahkan izrail untuk mencabut nyawaku, mengingat aku belum “menabung” sebiji pahalapun.
Hahahahaha . . . mendadak hati tergelitik. “sebiji pahala ???” apa Tuhan mau terima transaksiku dengan kata itu? Selayaknya bertransaksi dengan Tuhan harus dengan sesuatu yang lebih dari barang berharga yang ada di dunia ini. Atau mungkin sesuatu yang lebih berharga dari emas, berlian, intan, dan minyak, atau entahlah . . .
Ah . . . sudahlah. Semoga saja “sebiji pahala” mampu mewakili kegalauan hati ini. Semoga saja dengan “sebiji pahala” Tuhan memenjarakan Izrail sementara waktu untuk “membunuhku”.
Walau hanya beberapa paragraph, kurasa urusanku dengan Tuhan untuk sementara sampai disini. Senin ini aku harus berurusan dengan tuhan-tuhan di kampus dan para malaikat-malaikatnya. Semoga mereka mau menerimaku sebagai hambanya. Tapi pastilah mereka akan menerimaku. Mengingat syahadatku kepada mereka berupa semesteran yang setiap 6 bulan sekali harus dibayar telah ku tunaikan. Hal itu sudah cukup untuk menunjukkan eksistensiku dan hamba-hamba yang lain sebagai hambanya.
Rasa malu tentu tidak dapat dibuang dari wajah ini nanti ketika “menyembahnya” di ruang kelas. Ketika ketaatan menjadi barang tertawaan di singgasananya, ummatku yang satu ini amat sangat taat menyembahku. Dalam hatinya tertawa. Ummat yang lain mungkin berkata dalam hatinya, saudara seiman ini sudah berapa semester menyembah tuhan ini? Dalam hatinya tertawa. Sungguh memalukan.
Tetapi aku bukan Fathur jika hanya berhenti disaat rel yang membentang masih tersisa ribuan kilo jaraknya. Aku bukan Fathur jika karam mendayung sampan ditengah Melawi yang kemarau. Aku bukan Fathur bila malu bertemu tuhan hanya karena aku belum menunaikan tugas-tugas yang mereka beri. Karena bagiku, rasa malu kepada mereka tidak sebanding dengan keringat orang tuaku.
Aku memang belum miliki segalanya dalam beranda seorang pria. Masih dengan gampangnya menyedekahkan waktu untuk hidup yang sia-sia, dan ternyata yang harus manusia sadari bahwa rasa bosan terhadap yang sering Syahrini bilang “sesuatu” ternyata lebih baik dari pada tercandu akan sesuatu. Rasa bosan menjadi hamba tuhan di kampus kian hari semakin radikal, makin terasa besar dari dada ini ingin murtad dari ajaran mereka, tapi ya Allah . . . tolong pulangkan aku pada waktu itu  SEKALI SAJA . . . atau kutukar dengan apapun yang aku punya asal engkau kembalikan aku pada waktu itu.
Dan (menangis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .)

pemuda dan mahasiswa "selalu ada"

18:49:00 Posted by fathur alrahman
Di berbagai belahan bumi, gerakan pemuda dan mahasiswa selalu menjadi pelopor terdepan dalam menentukan masa depan bangsa. Dengan kata lain, gerakan pemuda menjadi kekuatan utama yang melahirkan revolusi besar-besaran bagi perjalanan penting suatu bangsa. Bahkan revolusi pemuda di prancis tahun 1968 misalnya bukan hanya melahirkan tatanan politik baru di negeri itu, tetapi melahirkan gagasan besar yang baru seperti feminisme, gerakan anti nuklir, dan ekologisme.
Demikian pula gerakan pemuda dan mahasiswa di negeri ini. Idealisme, revolusi dan demokrasi adalah hasil dari benih perjuangan para pemuda Indonesia pada zamannya, peran penting pemuda dan mahasiswa bagi perjalanan bangsa secara aktual memang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Pemuda dan mahasiswa dalam kesempatan mendatang merupakan generasi penerus yang dharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perbaikan bangsa.
Tetapi hari ini, gerakan-gerakan pemuda dan mahasiswa yang mengusung demokrasi mendapat tandingan yang tidak mudah. Salah satu penyebabnya dikarenakan demokrasi yang telah dibungkam oleh beberapa oknum. Hasilnya, Negara yang semakin kronis dikarenakan masalah kebangsaan yang semakin pelik dan terstruktur. Padahal hakikatnya demokrasi yang diusung pemuda dan mahasiswa bertujuan untuk mengurai peliknya penyakit bangsa ini agar tidak semakin menjadi-jadi, hal ini pula merupakan implementasi kepedulian pemuda dan mahasiswa terhadap kondisi bangsa.
Pemuda dan mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) dan kontrol sosial (social control) mendapat tuntutan agar menjadi next generation yang kuat dan “tahan banting” serta mampu mengoptimalisasikan potensinya demi memperkuat kukuhnya integritas bangsa ditengah kecamuk permasalahan yang mengepung bangsa dari berbagai sudut, untuk mewujudkan hal ini tentulah para pemuda harus memiliki idealisme yang tak tergadaikan oleh apapun, tidak mudah terpengaruh oleh kebudayaan populer (popular culture) serta gaya hidup yang berhaluan hedonis dan konsumeris, apalagi hingga terjerumus kepada seks bebas dan narkoba.
Dewasa ini demokrasi adalah salah satu contoh struktur yang dominan dan menindas. Eduardo Gonzales, mengatakan bahwa ‘’jika pemerintah baru yang terbentuk tidak menuntaskan persoalan-persoalan pada masa lalu seperti pelanggaran HAM dan korupsi serta kemiskinan akan menyebabkan munculnya sinisme dalam masyarakat dan mendorong persepsi negatif terhadap pemerintah bahwa seolah-olah demokrasi tidak berharga’’.Harapan kita, di Indonesia secara umum dan Kalimantan Barat secara khusus hal yang disampaikan Gonzales tidak akan terjadi.
Demokrasi sebagai salah satu fasilitas pemuda dan mahasiswa untuk berjuang hari ini semakin bergeser dari hakikatnya. Ditengah kematangannya, ternyata demokrasi masih terpenjara oleh sebuah hal yang disebut “melindungi kepentingan”. melindungi kepentingan-kepentingan itulah salah satu faktor penyebab pelik dan kompleksnya problem kebangsaan yang menimpa Negara ini. Ditambah lagi para penguasa yang tidak mampu menyelesaikan problem kebangsaan hari ini. Secara lebih ekstrim, mungkin saja mereka pula yang menjadi bagian dari problem kebangsaan itu.
Kegelisahan struktural dan kegelisahan personal kini telah terlintas dalam setiap pemikiran anak bangsa di negara ini, karena mereka kemudian telah memahami dampak dari segala ketidakadilan dan penjajahan pada masyarakat. Hal ini merupakan resiko daripada kebijakan “melindungi kepentingan”. Dari berbagai pengalaman dan insiden demokrasi yang telah terjadi di beberapa daerah di negara ini, cukup memberikan pelajaran berharga bahwa  demokrasi melahirkan sebuah iklim kengerian ketika ruang-ruang demokrasi tak mampu di isi dan dimanfaatkan secara cerdas, maksimal, dan selektif. Ditambah lagi dengan sikap reaktif yang berupaya melindungi individu atau golongan tertentu yang semakin menambah tebal jeruji demokrasi di Negara ini.

Dari titik ini, tampaklah pekerjaan rumah bagi pemuda dan mahasiswa semakin menumpuk. Besar dan berat. Harus ada inovasi lain bagi pemuda dan mahasiswa untuk turut menakar dosis mengobati penyakit bangsa, selayaknya kita tidak hanya mendirikan panggilan jiwa untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi. Tetapi mencoba dari sudut lain yang lebih riil dan berpeluang untuk menembus inti dari penyakit kebangsaan hari ini.
Untuk itu, sebagai elemen yang memiliki peran ganda (mediator dan fasilitator) antara pemerintah serta masyarakat sudah menjadi sebuah keharusan untuk mengcover seluruh potensi yang ada didalam masyarakat tersebut, lebih jauh melakukan hal demikian, pemuda dan mahasiswa sebaiknya lebih dahulu melakukan konsolidasi dan penguatan gerakan secara internal, mampu melakukan konsensus bersama untuk menetukan langkah taktis dalam merealisasikan common agendanya. Pemuda dan mahasiswa juga mesti membina komunikasi, intens, ikhlas, dan komitmen dalam memperjuangkan suara rakyat. Selain itu, gerakan pemuda dan mahasiswa juga diharapkan agar selalu solid dan memahami apa orientasi perjuangannya. Pemuda dan mahasiswa harus memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, karena mengingat betapa pentingnya peran pemuda dan mahasiswa sebagai garda depan perubahan bagi negeri ini.
Oleh karena itu, jangan melemah hanya karena demokrasi yang kita miliki “diculik” dan menjadi sandera mereka-mereka yang berkepentingan dan memiliki kuasa. Seperti pepatah “banyak jalan menuju roma” begitu pula perjuangan pemuda dan mahasiswa, tidak akan ada habisnya dan akan selalu ada jalan untuk kita berjuang demi kebaikan bangsa.
Mengutip tulisan Soe Hok Gie (mahasiswa Indonesia berperan ibarat seorang resi atau seorang sheriff yang turun ke kota untuk menyelamatkan rakyatnya ketika bandit-bandit datang dan mengancam keselamatan kota. Setelah bandit-bandit tewas dan melarikan diri sang resi dan sheriff pun pulang kerumahnya). Pemuda dan mahasiswa Indonesia tidak seperti itu, mereka akan selalu ada saat bandit datang dan pergi, pemuda dan mahasiswa Indonesia akan selalu ada dengan pemikiran-pemikiran kritis untuk menghadapi segala tindakan yang bertentangan dengan hati nurani mereka, singkatnya pemuda dan mahasiswa Indonesia akan “selalu ada”.

Monday, 4 April 2016

guru dan dilemanya

21:16:00 Posted by fathur alrahman

Debat dan diskusi tentang pendidikan Indonesia tak pernah berhenti. Dari mulai falsafah, konsep dasar, tujuan, kurikulum, tata laksana, sarana, hingga pembiayaan, kajian pendidikan negeri ini selalu menghadirkan isu-isu hangat, permasalahan baru, yang terus bertumpuk dan tak pernah selesai. Di atas tataran meja debat dan diskusi, isu pendidikan terus dibahas, formula-formula baru yang menurut sebagian ahli akan mengurai benang kusut pendidikan terus “diujicobakan”. Sementara dunia pendidikan terbaring di meja operasi, anak-anak kita tak pernah berhenti bertumbuh dengan sistem pendidikan yang telah lama berurat akar terbukti tidak membangun karakter anak negeri, tetapi menenggelamkan sebagian besar generasi penerus dalam kerusakan karakter. Sebagian kecil golongan elit pintar dan dipintarkan oleh sistem, kesempatan dan kekerabatan yang kepintarannya semakin membumbung di awan, menghasilkan ilmu yang tidak membumi. cemerlang secara teori tetapi nihil penerapan di dunia nyata. Sebagian besar lain terus dibodohkan oleh sistem dan malah menjadi beban di usia produktifnya.
Berbagai masalah yang timbul di dunia pendidikan seperti kekerasan di institusi pendidikan serta tawuan antar pelajar menjadi salah satu kisah tragisnya dunia pendidikan di Indonesia, adap pula yang menjurus ke arah penodaan karakter pendidikan sebagai wadah untuk memanusiakan manusia seperti video porno yang pemerannya adalah pelajar seperti menambah kelabu wajah pendidikan kita. Sedikit menyinggung tentang ujian nasional yang baru saja digelar memang bukan menjadi rahasia umum lagi aksi contek mencontek yang dilakukan peserta ujian. Dengan berbagai trik dan metode digunakan peserta agar bisa menjawab sebundelan kertas berisi pertanyaan yang sedikit banyak menentukan masa depan mereka. Begitu juga dengan kementerian pendidikan kita, berbagai cara telah ditempuh untuk melenyapkan budaya mencontek itu, mulai dari penomoran soal genap dan ganjil, mengacak posisi soal antar genap dan ganjil dan lain-lain, tapi semua itu tidak menjadi penghalang semakin merekahnya budaya mencontek ketika ujian berlangsung.
Apakah ini salah satu human error dari seorang guru ataukah memang wajah pendidikan di Indonesia tidak bisa terlepas dari kemelut-kemelut seperti yang penulis sebutkan di atas? Guru sebagai publik figur harus tetap teruji kemampuannya, karena di saat tergelincir kepada suatu kesalahan hebohnya seantero jagat, tetapi apabila seorang guru melakukan suatu prestasi masyarakat luas mengatakan pantas saja beliau adalah seorang guru. Fenomena inilah yang terkadang tidak disadari oleh kalangan seorang tua dan masyarakat bahwa penghargaan kepada seorang guru sebatas maklum. Penghargaannya kepada guru jauh lebih rendah dibandingkan dengan seorang pengusaha yang sukses yang notabene mempunyai kapital mereka memiliki pengaruh bagi masyarakat sekitar.
Tanggal 2 Mei, mengerucutkan fikiran kita tentang hari lairnya bapak pendidikan Ki Hajar Dewantoro yang telah kita sepakati bersama sebagai sebagai hari pendidikan nasional. Beliau berujar pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran intellect dan jasmani anak didik. Kalau boleh penulis tambahkan Tanpa sesosok guru, akan sangat mustahil cita-cita besar itu terwujud. Pertanyaan besar dan selalu menerawang di alam fikiran adalah kepada siapakah gelar “tanpa tanda jasa” disematkan hari ini? Bukankah gelar itu disematkan kepada sesosok guru sejak zaman datok adam dahulu? Tetapi kenyataannya berbeda sekarang. Anugerah seperti itu hanya layak disematkan kepada guru-guru zaman dahulu dan kepada guru “oemar bakri”.
Tak bisa dipungkiri lagi guru sebagai tonggak utama dalam sebuah proses pendidikan, peran guru dalam isntitusi pendidikan tak akan pernah bisa terbantahkan. Tetapi tetap saja “pahlawan tanpa tanda jasa” ini tak jarang dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan instansi terkait. Bukan rahasia umum lagi bahwa kesejahteraan guru di Indonesia selalu menjadi kritik terhadap instansi terkait.
Ketika ada pertanyaan bagaimana guru menyikapi perkembangan teknologi? Jawabannya adalah sama dengan apa yang guru sarankan kepada muridnya. Andaikan siswa bertanya kepada guru dan pertanyaan itu tidak dapat dijawab dan akhirnya di PR-kan kepada muridnya, suatu saat murid akan menjadi bumerang bagi guru. Saran guru kepada muridnya akan berbalik menjadi saran yang ditujukan untuk guru, semoga tidak terjadi pada seorang cendikiawan yang profesional.
Wajar saja fenomena-fenomena “guru kota” semakin menggeliat akhir-akhir ini, dikarenakan pertimbangan-pertimbangan tentang kesejahteraan, fasilitas dan media penunjang untuk pembelajaran amat sangat kurang di areal jajahan ‘guru pelosok” dalam hal ini penulis pikir tidak melulu menjadi tanggung jawab bagi institusi pendidikan untuk membenahi pemerataan pendidikan di daerah, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak yang berada dalam skup Negara untuk mewujudkan pendidikan yang layak bagi sekolah pegunungan dan sekolah-sekolah pesisir.
Semoga adik-adik penulis dikemudian hari tidak hanya duduk di meja kuliah keguruan hanya demi formalitas belaka tanpa disertai dengan keikhlasan dan tekad yang kuat untuk menjadi guru-guru yang motivatif dan inovatif, agar semangat juang untuk mencerdaskan kehidupan banga tidak hanya termaktub dalam teks Undang-Undang Dasar 1945 belaka, tetapi menjadi realitas kekinian pada kehidupan masyarakat dewasa ini. Juga kepada rekan, teman dan sahabat penulis yang tak lama lagi akan mendapat gelar sarjananya agar (seandainya istiqomah di jalan yang telah dipilih) menjadi sesosok “oemar bakri” baru di dunia pendidikan kita, agar kita dapatkan kembali gelar “pahlawan tanda jasa” yang minggat entah kemana, agar kita tidak hanya menjadi generasi perak ataupun perunggu di negeri ini.

pendidikan sebagai pabrik pengangguran intelektual

21:14:00 Posted by fathur alrahman
Paradigma pendidikan menuntut pendidikan bersifat double tracks. Artinya, pendidikan sebagai suatu proses tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakatnya. Dunia pendidikan senantiasa mengkaitkan proses pendidikan dengan masyarakatnya pada umumnya, dan dunia kerja pada khususnya. Keterkaitan ini memiliki arti bahwa prestasi peserta didik tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka lakukan di lingkungan sekolah, melainkan prestasi perserta didik juga ditentukan oleh apa yang mereka kerjakan di dunia kerja dan di masyarakat pada umumnya, pendidikan yang bersifat double tracks menekankan bahwa untuk mengembangkan pengetahuan umum dan spesifik harus melalui kombinasi yang strukturnya terpadu antara tempat kerja, pelatihan dan pendidikan formal sistem persekolahan.
Tulisan ini dibuat ketika hari dimana output pendidikan setingkat SMA berhasil tercipta. Setelah 12 tahun belajar dan duduk di bangku sekolah pada akhirnya mereka tiba di gerbang keluar proses pembelajaran formal. Namun, yang menjadi pertanyaan kita bersama hari ini dan kemudian hari adalah bagaimanakah hasil dari pendidikan yang telah mereka jalani selama 12 tahun itu? Seperti apa model “makhluk” yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang hingga sekarang masih menciptakan mental “kuli” dan “babu” hari ini?
Ketika seseorang berniat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut. Mungkin saja dia tergerak hatinya menempuh studi di perguruan tinggi semata-mata untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya untuk bekalnya meniti kehidupan di masyarakat kelak, atau hanya menuruti kehendak orang tua atau bahkan hanya untuk mendapatkan gelar, dalam proses pembelajaran inilah cita-cita masa kecil kita akan disepak, ditendang, diterajang, dan dibumihanguskan di arena perkuliahan. mau tidak mau dan suka tidak suka, anda akan merasakan betapa beratnya menjadi seorang “agent of change” dan seiring perjalanan waktu, rasa jenuh, bosan, capek, letih, akan dunia kampus akan menghinggapi anda. tentu saja efeknya ingin menyelesaikan studi secepat mungkin dan dengan cara apapun. salah satunya “membeli skripsi”.
Apalah jadinya bila mahasiswa indonesia melakukan hal seperti itu. sungguh sebuah idikator kegagalan proses pembelajarannya di kampus. namun, ini tidak melulu merupakan kesalahan anda sendiri, beberapa faktor yang mungkin menyebabkan anda harus melakukan hal seperti itu. misalnya desakan orang tua, pekerjaan, atau mungkin desakan dari pihak luar.
Bila hal ini terjadi, indikasinya penyakit gelarisme telah menjangkiti sebagian besar mahasiswa kita. penyakit yang sekarang sedang mewabah dikalangan mahasiswa. penyakit baru yang belum terdaftar pada ilmu kedokteran. kenapa? karena penyakit ini menyerang ideologi mahasiswa. tanpa anda sadari, cita-cita masa kecil anda yang telah diandaikan sejak dulu bergeser sedikit demi sedikit. cita-cita yang humanis mulai berganti menjadi hasrat individu, ironis memang. Tapi begitulah faktanya.
Salah satu problem pendidikan nasional adalah tidak adanya orientasi untuk kemandirian para insan akademis. Faktor kemandirian masih belum menjadi orientasi, sehingga output pendidikan kita banyak yang bermental terjajah. Menurut pandangan Romo Mangunwijaya, pendidikan kita hanya mencetak manusia-manusia bermental “kuli” dan “babu”. Maksudnya, pendidikan kita hanya menciptakan manusia-manusia yang kecanduan atau ketergantungan kepada pihak lain, tidak mampu mandiri. Padahal mental-mental seperti itu (kuli dan babu) adalah peninggalan kolonial belanda. Sama artinya dengan pendidikan kita belum mampu berperan sebagai proses pembebasan.
Selain itu ada faktor yang tidak kalah penting yang mengakibatkan pengangguran intelektual semakin meraja lela adalah sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia.  Hal ini disebabkan krisis yang melanda Indonesia 14 tahun lalu yang hingga sekarang pun kita masih belum mampu keluar dari krisis yang semakin dinamis merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Mau tidak mau dan suka tidak suka insan-insan akademis yang telah berhasil menamatkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi kebanyakan dirasuki kebingungan untuk melangkah. Ada beberapa dari mereka yang demi mengurangi pengangguran intelektual bekerja tidak pada bidang yang dipelajarinya ketika duduk di bangku kuliah, hal ini sedikit banyak adalah buah dari sistem pendidikan di Indonesia.
Bila berbicara tentang pengangguran intelektual, tentu tidak bisa terlepas dari sesosok sarjana-sarjana yang tidak atau belum bekerja yang tentunya sebagai objek dari pengangguran intelektual itu. Meminjam pengertian dari Akhmad Surajat, Sarjana adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S-1).  Untuk memperoleh gelar sarjana, secara normatif dibutuhkan waktu perkuliahan selama  4-6 tahun atau telah menempuh perkuliahan dengan jumlah SKS sebanyak 140-160. Jika seseorang sudah dinyatakan lulus oleh sebuah perguruan tinggi, maka dia berhak menyandang gelar sarjana.
Bila menilik dari pengertian diatas, tidak mudah memang untuk menjadi seorang sarjana, selain mengorbankan materi yang tidak sedikit, waktu juga harus turut dikorbankan. Dengan demikian kiranya cukup terang, sesungguhnya  sarjana bukanlah orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. Kepadanya dituntut untuk tersedia kapasitas kognitif tingkat tinggi serta memiliki tanggung jawab yang tidak hanya pada dirinya dan lingkungan dimana dia berada, tetapi juga memikul tanggung jawab yang hakiki yaitu kepada Sang Khalik.
Berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 Tentang  Kerangka Kualifikasi  Nasional Indonesia, sarjana (S1) dikategorikan sebagai  jabatan teknisi atau analis (bukan dikategorikan sebagai ahli)  yang berada pada  level (jenjang) 6 (enam), dengan gambaran kualifikasi, sebagai berikut: Pertama, mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan IPTEKS pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.Kedua, menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural. Ketiga, mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok. Terakhir, bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Tetapi terlepas dari hal diatas, kepentingan pasar kerja adalah membutuhkan tenaga yang berkualitas. Terlepas dari seperti apa bentuknya dan dari mana asalnya selama dia berkualitas dan memiliki royaitas terhadap bidang pekerjaan tertentu maka dunia kerja akan selalu membuka tangan kepadanya, bagi yang tidak memiliki kualitas dan royalitas maka mereka-mereka inilah yang menjadi pengangguran intelektual.
Paradigma pendidikan kita sebenarnya perlu diorientasikan kepada kemandirian. Artinya, setiap insan akademik baik pelajar maupun mahasiswa harus diajarkan untuk mandiri, pendidikan seyogyanya tidak harus diarahkan kepada paradigma ketergantungan yang pada akhirnya hanya akan menambah kuantitas manusia Indonesia yang bermental kuli dan babu. Tetapi diarahkan untuk membentuk karakter manusia berdasaran kompetensi yang dimilikinya tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain.
Seyogyanya, paradigma pendidikan tidak membimbing dan mengarahkan para insan akademik untuk terikat dengan sistem. Pendidikan harus mampu menggali potensi insan-insan akademis untuk berkembang tanpa harus terikat dengan sistem. Misalnya saja, mempelajari tentang ekonomi, politik, jurnalistik, budaya dan sebagainya kesemuanya itu akan menjadi bekalnya di kemudian hari. Bahkan bisa menjadi sebuah langkah antisipasi jika saja peluang kerja tidak diperoleh.
Ia bisa saja menjadi seorang jurnalis, pengusaha, politisi, atau bahkan menjadi budayawan. Atau bahkan insan akademis tadi bisa membuka peluang usaha sendiri, yang demikian adalah manifestasi dari insan intelektual yang memiliki mental mampu hidup mandiri, tidak bermentalkan “kuli” atau “babu”. Dengan begitu insan akademis bisa mandiri dimanapun bumi yang ia pijak dan langit yang ia junjung.

pemuda indonesia. pelopor atau pengekor?

21:12:00 Posted by fathur alrahman
Generasi muda adalah penerus masa depan, generasi muda juga adalah cermin suatu bangsa. Melihat fenomena ini tak heran banyak harapan yang kemudian digantungkan kepada kelomok generasi muda, mengintip sekilas sejarah pemuda Indonesia masa lalu yang memiliki orientasi perjuangan tersendiri dalam proses gerakan perjuangan bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan, serta dituliskan sebagai tinta emas untuk pemuda Indonesia dan menjadi sejarah bangsa. Menapaki tahun 2007, aura globalisasi dunia mulai berimbas ke Asia, dalam hal ini Indonesia tidak luput darinya. Arus-arus invasi global ini menyibak kehidupan budaya masyarakatnya. Dengan hadirnya globalisasi, dunia seakan-akan berada di sebuah kampung global. Mau tidak mau dan suka tidak suka, mayoritas penduduk Indonesia yang bersifat homogen harus menerima globalisasi, ditambah lagi pemerintah yang pada beberapa dekade lalu telah membuka diri terhadap arus globaliasi ini.
Dewasa ini, perkembangan sosial kemasyarakatan di Indonesia mendapat tantangan yang cukup berat akibat adanya modernisasi. Wacana ini memang sudah terlampau basi untuk dibahas, tetapi selalu urgen untuk dibicarakan. Format realitas ini pada dasarnya merupakan format jagka panjang yang akan membenamkan semangat patriotisme, idealisme dan menimbulkan emosi jiwa yang terlampau melangkahi batas kewajaran dari para generasi muda kita dewasa ini. Generasi-generasi muda Indonesia rentan terkontaminasi serbuan-serbuan nilai-nilai budaya sinkretis baru. Sekarang sedang hangat dan merebak adalah Korean pop atau lebih dikenal dengan istilah K-pop. Fenomena ini menjadi gaya hidup (life style) di kalangan gengerasi muda kita dewasa ini. Mungkin saja hal ini dikarenakan sistem kehidupan masyarakat kita yang cenderung mudah berubah yang pada kenyataannya mengakibatkan perubahan gaya hidup ke arah pragmatisme, ignorance, disorientasi, hingga mengakibakan hal-hal yang bersifat destruktif.
Dikarenakan mengguritanya fenomena tersebut, pemuda pemudi kita berlomba mengekor keberhasilan yang telah dicapai beberapa boy band dan girl band asal korea yang menjadi kiblat K-pop. Dengan dalih terinspirasi, mulai dari cara berbusana, tata rias, hingga irama lagu “terinspirasi” dari boy band dan girl band yang dibuntutinya. Mari kita berfikir sejenak sembari menanyakan kepada para pemuda dan pemudi kita tentang idealisme yang telah mengakar rumput sepanjang sejarah bangsa. Apakah semakin menebal atau malah mulai tererosi oleh modernisme yang mengadopsi budaya sinkretis? Pertanyaan besar untuk kita generasi muda Indonesia. Kata Latah dan ikut-ikutan mungkin sedikit pas untuk mengganti kata meniru atau menjiplak. Masyarakat kita selalu disuguhkan hal yang sama berkali-kali, jika ada salah satu trend yang bermunculan lalu kemudian disaukai banyak orang maka ramai-ramai yang “mirip” pun akan banyak bermunculan bak jamur di musim hujan. Entah itu acara televisi, aliran musik, film, produk, gaya berpakaian dan sebagainya.
Seharusnya generasi muda Indonesia berada di garda terdepan untuk menawarkan berbagai macam hal yang berbau kreatifitas untuk menjawab tantangan zaman, serta tidak hanya menyerap budaya budaya luar dan kemudian mengabadikan rentetan panjang budaya latah yang telah mengontaminasi berbagai segi fenomena kemasyarakatan. Hal ini mengkrisiskan kreatifitas di kalangan pengekor K-pop yang tak lain adalah boy band dan girl band dari Indonesia.  Meminjam istilah dari Dr. Syarif, “Generasi muda Indonesia hari ini seperti mengonsumsi muntahan bakso yang sudah dikunyah oleh orang korea”. Ada benarnya istilah diatas yang menganalogikan betapa miskin dan menjijikkannya boy band dan girl band ala Indonesia dari kreatifitas.
Menurut hemat penulis, efek domino dari pengkerdilan kreatifitas ini tidak hanya mengontaminasi dalam sekup generasi muda saja. Lihat saja anak-anak kecil yang dengan lancarnya mampu mendendangkan single-single terbaru dari boy band dan girl band yang diidolakannya. Lagu balonku sudah kalah pamor dibandingkan lagu cinta yang seharusnya belum masanya untuk mereka konsumsi. Tanpa kita sadari, hal inilah yang “memaksa” anak-anak bangsa matang sebelum waktunya.
Atau mungkin Karena selera musik remaja Indonesia yang bisa dikatakan terus mengalami kemunduran. Mereka lebih memilih mengidolakan boy band dan girl band yang hanya bermodalkan tampang ganteng dan cantik serta lipsing di acaca televisi ketimbang mengidolakan penyanyi-penyanyi lain yang jelas memiliki kualitas mumpuni. Bahkan tak jarang kita lihat remaja-remaja putri sampai menangis sejadi-jadinya hanya karena tidak bisa melihat boy band idolanya yang toh nantinya ketika mati jasad mereka habis dimakan cacing juga. Entah apa yang mereka pikirkan.
Di era modern ini kemasan penyajianlah yang lebih menentukan bukan hanya kemmpuan olah fokal saja, tetapi juga dibarengi dengan wajah ganteng dan cantik ditambah koreografi yang energik. Jika kita bisa mengolah tren lebih baik kita akan selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Terlepas dari hal diatas, kemerdekaan untuk mengidolakan apapun dan siapapun tidak akan penulis kurung dalam tulisan ini. Para konsumen hiburan bebas untuk mengidolakan apapun atau siapapun dan dalam bentuk apapun juga. Karena hakikat manusia adalah merdeka bahkan saat ia lahir, yang perlu dia tanggung saat pertama kali menghirup udara dunia hanya dua hal. pertama adalah dosa yang kelak sengaja atau tidak ia kerjakan dan hutang Negara yang sejak lahir sudah diembannya. Sesungguhnya grup-grup musik lokal itu berprospek cerah jika saja bisa dikemas dengan kemamuan dan kesan yang berbeda dari grup-grup asal korea dan lebih mengIndonesia, dengan cara cukup menampilkan identitas yang berbeda sehingga kata-kata terinspirasi tidak disalahgunakan dan menjadi pembesaran.


pentingkah multikulturalisme???

21:10:00 Posted by fathur alrahman
Islam adalah agama yang mudah dan longgar, bukan agama yang sulit dan sempit. Demikianlah penegasan Rashid Ridla sebagaimana tertuang dalam kitabnya Yusrul Islam wa Ushul at-Tasyri’ al-‘Am (Kemudahan Islam dan Dasar-Dasar Legislasi Umum Hukum Islam) hanya saja kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Kondisi yang demikian memungkinkan terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Multikulturalisme adalah konsep yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman dengan alasan multikulturalisme merupakan sebuah idiologi yang mengagungkan perbedaaan budaya, atau sebuah keyakinan yang mengakui dan mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai corak kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme akan menjadi pengikat dan jembatan yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan termasuk perbedaan kesukubangsaan dan suku bangsa dalam masyarakat yang multikultural. Perbedaan itu dapat terwadahi di tempat-tempat umum, tempat kerja dan pasar, dan sistem nasional dalam hal kesetaraan derajat secara politik, hukum, ekonomi, dan sosial.
Semakin kita sadar akan hakikat multikuluralisme, potensi-potensi konflik yang bertunas dari dasar perbedaan mungkin dapat kita babat sebelum tumbuh, dalam hal ini tak layak rasanya kita hanya memaknai perbedaan sebagai suatu beban yang hidup di masyarakat kita. Sudah selayaknya sebagai makhluk sosial menyikapi segala masalah yang tercipta di masyarakat dengan metode-metode yang berkiblat pada musyawarah.
Masyarakat sebagai manusia dan komunitas terbesar dalam skup negara memiliki berbagai kebutuhan hidup. Dualisme kebutuhan ini secara substantif  antara lain kebutuhan jasmani dan ruhani. Kebutuhan jasmani antara lain makan, minum, tidur dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan ruhani seperti dicintai, rasa aman dan lain-lain.
Menilik lebih jauh tentang kebutuhan ruhani, mari kita kerucutkan kepada rasa aman, tidak ada satu manusiapun yang ingin hidup dalam keresahan, tidak ada satu manusiapun yang ingin hidup dengan konflik dalam lingkungnannya. Terlepas dari pembaca sepakat atau tidak, toh banyak dari masyarakat kita yang terkena bencana mengungsi ketempat yang lebih aman apabila sekitar lingkungannya sudah tak kondusif lagi. Indikasi ini menunjukkan bahwa rasa aman amat sangat dibutuhkan manusia. Bahkan ketika manusia berada dalam salah satu kondisi yang hendak merenggut rasa aman yang dirasakaannya bukan tidak mungkin rasa aman itu akan dipilih ketimbang harta benda.
Rasa aman akan tercipta apabila hakikat multikulturalisme terdokin dengan mantap di lingkungan masyarakat, segala sesuatu yang berakar dari perbedaan bila dikawinkan dengan multikulturalisme akan melahirkan anak dari toleransi antar masyarakat. Hal ini telah termkatub menjadi salah satu kalimat yang mampang di lambang negara kita “bhinneka tunggal ika” yang kemudian sering dipanggil dengan semboyan negara ini serta masing-masing individu ataupun kelompok mampu megurung hawa nafsu yang bersemayam dalam dirinya, dengan demikian situasi-situasi  yang tidak diharapkan oleh sebagian besar masyarakat kita tidak akan menguak dan menimbulkan biang-biang keresahan. Hanya saja memang selalu ada al-nafs al lawwamah yang mempelesetkan situasi dan kondisi untuk memperkeruh suasana dengan tujuan tertentu.
Sedikit bergeser ke arah ideologis, meminjam rangkaian kalimat dari gus dur, hawa nafsu adalah suatu kekuatan yang menyipan potensi destruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah dan tidak pernah tenang. Para ulama kerap membandingkan hawa nafsu dengan binatang liar. Siapapun yang telah menjinakkan hawa nafsunya dia akan tenang dan mampu menggunakan nafsunya untuk melakukan aktifitas atau mencapai tujuan-tujuan luhur. Sebaliknya, siapapun yang masih dikuasai hawa nafsunya dia akan selalu gelisah dan ditunggangi hawa nafsunya, dia membahayakan dirinya dan orang lain.
Dari perspektif ini ada dua kategori manusia. Pertama, orang-orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya sehingga bisa memberi manfaat kepada siapapun. Mereka adalah pribadi yang tenang  dan damai (al-nafs al-muthmainnah) dan menjadi representasi kehadiran spiritualitas, khalifah Allah yang sebenarnya (dalam konteksMahabharata, para pandawa).
Kedua, mereka yang masih dikuasai hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapapun. Mereka adalah pribadi-pribadi gelisah dan menjadi biang kegelisahan sosial dan pembuat masalah. (al-nafs al lawwamah) dan menjadi representasi kehadiran hawa nafsu (dalam konteks Mahabharata, para kurawa). Kedua kelompok ini berbagai tingkat realitas dan interaksi sosial dengan intensitas yang beragam. Dari tingkat lokal, nasional hingga internasional. Dalam bidang pendidikan dan agama hingga bisnis dan politik dalam urusan pribadi hingga kelompok.
Terlepas dari hal diatas, tulisan ini hanya ingin mengajak kepada pembaca untuk dapat menerima apa yang dimiliki orang lain. Baik itu kelebihan, kekurangan dan perbedaannya. Perbedaan mirip dengan uang receh, nggak rugi kalau kita punya banyak, serta punya dua sisi yang berbeda tergantung dari sisi mana kita memandangnya.
Mungkin selayaknyalah ada sedikit ruang untuk multikulturalime di masyarakat kita agar (maaf beribu-ribu maaf) luka lama yang sudah mengering tidak terbuka kembali, terlepas dari berbagai macam kepentingan yang menguak dan menjadi issu publik memang tidak elok bila kita kesampingkan begitu saja, untuk sekarang Kalimantan Barat butuh rasa aman.


"gelarisme berkawan dengan pnsisme"

21:05:00 Posted by fathur alrahman
Pernah anda berfikir tujuan anda kuliah? tentu sudah berakar pada milyaran cabang dendrit yang dititipkan Allah pada anda. entah semenjak anda duduk di bangku sekolah dasar, menengah dan atas. beragam memang tujuan yang ingin anda capai, ada yang ingin jadi guru, dokter, ilmuan, perawat, pilot, bahkan ada yang ingin jadi pesiden.
Terlepas dari hal diatas, untuk mencapai tujuan (cita-cita masa kecil) anda itu, tentu harus melalui jenjang-jenjang penddikan tinggi. walaupun ada yang tidak melulu harus dengan cara menghabiskan waktu dikampus untuk mencapai cita-cita masa kecil itu, tapi pada hakikatnya kita tetap harus belajar.
Dalam proses pembelajaran inilah cita-cita masa kecil kita akan disepak, ditendang, diterajang, dan dibumihanguskan di arena perkuliahan. mau tidak mau dan suka tidak suka, anda akan merasakan betapa beratnya menjadi seorang “agent of change” dan seiring perjalanan waktu, rasa jenuh, bosan, capek, letih, akan dunia kampus akan menghinggapi anda. tentu saja efeknya ingin menyelesaikan studi secepat mungkin dan dengan cara apapun. salah satunya “membeli skripsi”.
Apalah jadinya bila mahasiswa indonesia melakukan hal seperti itu. sungguh sebuah idikator kegagalan proses pembelajarannya di kampus. namun, ini tidak melulu merupakan kesalahan anda sendiri, beberapa faktor yang mungkin menyebabkan anda harus melakukan hal seperti itu. misalnya desakan orang tua, pekerjaan, atau mungkin desakan dari pihak luar.
bila hal ini terjadi, indikasinya anda mulai tertular penyakit gelarisme. penyakit yang sekarang sedang mewabah dikalangan mahasiswa. penyakit baru yang belum terdaftar pada ilmu kedokteran. kenapa? karena penyakit ini menyerang ideologi mahasiswa. tanpa anda sadari, cita-cita masa kecil anda yang telah diandaikan sejak dulu bergeser sedikit demi sedikit. cita-cita yang humanis mulai berganti menjadi hasrat individu, ironis memang. Tapi begitulah faktanya.
Nah mari kita berandai sejenak. Setelah selesai kuliah apa yang akan kita kerjakan? Tentu terbayang keinginan-keinginan lain setelah cita-cita masa kecil tercapai. sebagai kodrat manusia adalah bekerja, berumah tangga, membahagiakan diri dan orang tua setelah mengorbankan waktu, tenaga, dan materi di jenjang perkuliahan.
Ibunda penulis sering bertanya. “bang kapan selesai bang? Bulan sekian ada pendaftaran PNS tuh, cepat-cepatlah selesai kuliah terus daftar, untung-untung diterima kan”. Mungkin disinilah asal muasal PNSisme mewabah di masyarakat. Berawal dari terkontaminasinya orang tua yang kemudian menularkannya kepada sang anak. Betapa begitu agungnya seorang pegawai negeri ketimbang seorang penjual nasi goreng di masyarakat kita. Betapa  PNSisme diperebutkan oleh mayoritas sarjana muda kita dewasa ini.
Bisa dikatakan inilah profesi yang paling diperebutan oleh sarjana muda sekarang. Konon dahulu, pekerjaan menjadi seorang pegawai negeri kebanyakan orang menolak, karena mereka berpendapat menjadi seorang pegawai merugikan diri, bergaji kecil dan sebagainya. Tapi sekarang, kebanyakan orang malah berebut. Tengok saja setiap ada pembukaan di instansi tertentu, yang mendaftar dan mengikuti tes ribuan orang, tapi kuota yang tersedia hanya ratusan atau bahkan puluhan. 
Kesejahteraan finansial yang terjamin. Mungkin inilah salah satu tawaran PNSisme kepada pemujanya. Bila hal ini yang menjadi tolok ukurnya, berwirausaha bisa lebih kaya dari pegawai negeri. Banyak wirausahawan diluar sana yang punya mobil, rumah mewah, kocek tebal, dan sebagainya. Kalau mau matre jangan alang-alang. Pada skup yang berbeda wirausaha turut andil dalam mensejahterakan masyarakat, membuka lapangan kerja baru, urgensinya adalah mengurangi jumlah pengangguran yang menjadi salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara.

HMI dari masa ke masa

20:40:00 Posted by fathur alrahman

Hari ini mungkin kebanyakan penduduk Indonesia tidak mengenal atau bahkan tidak tahu apa itu HMI. Dalam anggaran dasar HMI pasal 1 ayat 1 disebutkan “organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI. 66 tahun sudah HMI hadir. Bila HMI diibaratkan seperti manusia, 66 tahun adalah umur yang sudah sangat matang dan sudah selayaknya menikmati hari tua. Untunglah HMI sebagai organisasi perkaderan sehingga setua apapun umur HMI, tenaganya akan selalu muda.
Sejak Lafran pane seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam) yang baru duduk di semester 1 mendeklarasikan terbentuknya HMI pada Rabu, 14 Rabiul Awal 1366 H yang bertepatan dengan Tanggal 5 Februari 1947, dinamika-dinamika yang dialami HMI untuk mempertahankan eksistensinya sangatlah beragam. Mulai dari perjuangan memperebutkan kemerdekaan dan menumpas pemberontakan PKI, hingga pergolakan pemikiran antar setiap kader. Tentu amat sangat banyak dinamika yang telah diarungi HMI selama 66 tahun terakhir, namun beberapa hal yang dapat penulis hidangkan yang peulis kutip dari berbagai referensi untuk melengkapi tulisan “HMI dari masa ke masa” ini.
Masa-masa pengokohan HMI dimulai dari 5 februari hingga 30 November 1947 selama lebih kurang sembilan bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI baru berakhir. Masa ini dipergunakan untuk menjawab berbagai reaksi untuk mengokohkan eksistensi HMI. Karena itu untuk sosialisasi organisasi maka diadakan ceramah-ceramah ilmiah, rekreasi dan malam-malam kesenian. Hingga pada tanggal 22 Agustus 1947, PB HMI di reshuffle. Ketua Lafran Pane diantikan oleh H.M Mintaredja hingga tanggal 30 November 1947 diadakan kongres pertama HMI.
Sejalan dengan salah satu tujuan awal berdirinya HMI yaitu mempertahankan kemerdekaan maka dalam masa perang kemerdekaan (1947 – 1949) HMI terjun bertempur melawan Belanda. HMI membantu pemerintah baik langsung memegang senjata, sebagai staf penerangan maupun sebagai penghubung. HMI juga berperan menghadapi pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948. Wakil ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM) dibawah komando Hartono. Dengan mengerahkan angora Corps Mahasiswa, ke gunung-gunung dan memperkuat aparat pemerintah, sejak saat itu PKI menaruh dendam terhadap HMI.
Selama anggota HMI terjun ke medan pertempuran membantu pemerintah mengusir penjajah, selama itu pula pembinaan organisasi HMI terabaikan, di bidang eksternal antara lain pemerintah yang tidak membubarkan PKI semenjak pemberontakan di Madiun tahun 1948 menyebabkan PKI bangkit kembali, sehingga PKI tampil sebagai partai pemerintah. Masa-masa 1950 – 1963 menjadi masa pembinaan dan pengembangan organisasi di HMI.
HMI vs PKI jilid II terjadi pada tahun 1964 hingga 1965. Dendam PKI pada HMI yang tertanam sejak pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 membuat mereka terus mengejar HMI, karena dianggap sebagai penghalang bagi tercapainya tujuan PKI. Maka dilakukanlah berbagai upaya agar HMI dibubarkan. Segala trik dilancarkan PKI agar Presiden Sukarno mau membubarkan HMI. Namun segala trik itupun sia-sia karena dukungan dan pembelaan dari pejabat sipil, militer, pemimpin organisasi dan mahasiswa serta tokoh-tokoh islam yang turut membela HMI.
Tanggal 1 Oktober 1965 merupakan tugu pemisah antara orde lama dan orde baru. Seandainya PKI gagal dalam pemberontakannya, HMI akan tampil kedua kalinya memberontakan PKI. Hal itu terbukti. Wakil ketua PB HMI Mar’ie Muhammad mengambil inisiatif mendirikan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada tanggal 25 Oktober 1965 (seperti Ahmad Tirtohusodo yang mendirikan Corps Mahasiswa). Tritura 10 Januari 1966 dan supersemar merupakan kemenangan melawan PKI sehari setelahnya PKI dibubarkan dan dilarang. Dengan dibubarkannya PKI, Reevokasi HMI (1966 – 1968) pun lahir.
Setelah orde baru mantap dan pancasila serta UUD 1969 dilaksanakan, maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah rencana pembangunan lima tahun dan sudah menyelesaikan pembangunan 25 tahun pertama, kemudian menyusul pembangunan 25 tahun kedua. Sumbangan yang diberikan HMI demi berpartisipasi dalam pembangunan (1969-1970) antara lain partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan. Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran dan partisipasi dalam bentuk langsung dari pembangunan.
Selama kurun waktu orde lama (1959-1965) kebebasan meneluarkan pendapat terkekang dengan ketat. Suasana berubah ketika orde baru lahir karena disadari bahwa pembaharuan dalam pemikiran islam dipandang sebagai suatu keharusan. Hal seperti itu muncul di kalangan HMI dan mencapai puncaknya tahun 1970an ketika nurcholish madjid menyampaikan ide pembaharuannya dengan topik Keharusan Pembaharuan Pemikiran dalam Islam dan Masalah Integritas Umat. Hingga karena perbedaan pendapat tentang persoalan Negara islam, islam kaffah, sampai kepada tujuan HMI dari islam menjadi pancasila dengan diundangkannya UU no : 8/1985 yang mengharuskan bahwa semua partai dan organisasi harus berlandaskan pancasila, HMI pun menyesuaikan diri dengan merubah asas islam dengan pancasila, akibat penyesuaian itu beberapa orang oknum anggota HMI membentuk MPO yang menyebabkan HMI terpecah menjadi dua yaitu HMI DIPO dan HMI MPO. Namun secara de facto, HMI MPO memang ada, tetapi secara yuridis HMI MPO adalah inkonstitusional, hal ini terjadi pada kongres ke 6 HMI di padang tahun 1986. Masa – masa ini adalah dimana pergolakan dan pembaharuan pemikiran HMI (1970 – 1998).
HMI go ahead 1998 – sekarang merupakan masa-masa remand tentang sejarah masa lalu yang harus dijadikan cermin sekaligus otokritik pada masa kini. Dengan demikian, HMI bisa menjadikan sejarah sebagai alat untuk melakukan dialog dan analisis. Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya. Barangkali yang juga menjadi penting adalah bagaimana mempersiapkan organisasi HMI untuk selalu berpikir analitis, prediktif, dan visioner agar dapat berkiprah sesuai dinamika kekinian dan tantangan masa mendatang agar masa lalu memberikan tamparan telak terhadap geliat perjuangan HMI hari ini. Dengan tamparan itu HMI terbangun dari mimpinya tentang romantisme masa lalu hingga ghiroh perjuangannya terhadap ummat dan bangsa kian berkobar sesuai dengan tantangan zaman yang menghadang hari ini. jadikan milad ini milad perubahan untuk HMI. YAKUSA.